Hidup untuk bersua
Thursday, July 28th, 2005Ah…Alangkah indahnya hidup
seandainya kita tahu
untuk apa sebenarnya kita ‘melangkah’
Atau barangkali kita tak pernah ingin tahu?
me!
Ah…Alangkah indahnya hidup
seandainya kita tahu
untuk apa sebenarnya kita ‘melangkah’
Atau barangkali kita tak pernah ingin tahu?
me!
Di jalan ini
aku mengendus jejakmu
yang terbawa bongkahan lumpur
dan mentari yang tersipu
angin lalu
jua di sudut simpang itu
aku hampir tak kuat lagi menunggumu
me!
Demi masa….sesungguhnya apa yang bisa di dapat manusia dari perjalanannya?
Sungguh! Aku pernah mencoba memahami sekian tanda-tanda Tuhan yang begitu banyak terserak di muka bumi ini. Tapi, aku tidak sanggup. Beberapa kali aku mencoba membacanya dan beberapa kali pula aku merasa bisa menangkap jejak sang nuansa, tapi ternyata…aku salah.
Dan aku berlindung dibalik bendera bahwa semuanya berubah.
Ah…Benarkah? Ataukah sesungguhnya semesta hanya bergerak berputar dan bersiklus, dus karenanya hanya jejak angin tanpa esensi yang bisa tertangkap tapi kita sudah merasa bangga karenanya? Sungguh, aku tidak tahu.
Adakah aku telah berani membedakan antara benar dan salah? Adakah aku berani mengangkat wajahku menghadapi ketakutan terdalamku dan berdamai dengan hatiku? Adakah aku, karenanya, belajar menghadapi pengalaman pahit dan bangkit menantang matahari?
Barangkali!
Atau barangkali jua saat ini pun, aku masih saja duduk tepekur di sisi jalan yang sama dengan beberapa tahun lalu. Betapa malangnya. Betapa malangnya seorang yang tidak mendapati apa-apa selama waktu menggilas denyut nadinya.
Tabik.
Kawan…Sudikah kau memberi tahuku, Sampai dimana batas langkah manusia?
Adakah ia berprasasti di puncak himalaya? Akankah ia tertapak di ketinggian pendapatan? Ataukah ia terjejak di kedalaman sujud?
Ah… aku tidak tahu. Dan tak patut pula aku menjawab hal itu.
Tapi, barangkali …… sesungguhnya aku ragu, sebab mungkin saja kita tidak pernah melangkah jauh dan batas itu pun mungkin amat dekat. Cuma di dalam hati.
Kawan…seberapa sering kau menyadari bahwa kau sesungguhnya berjalan sendiri di dalam dunia ini?
ataukah kau….
perjalanan ini
jadi saksi galaksi yang mati
dalam laci kepalaku
dan jejak itu
hanya helai usang penuh debu
demi ornamen tak bergincu
ah,
tidak!
dari pintu ke pintu
masih kulihat jua lentera itu
terpancang di sudut jendela yang jatuh
menari dan menabuhkan rasa iri
diantara gelegar janji
saksi
dan kuasa tertinggi
benci
me!
dimatanya kulihat pijar api yang termakan usia
lapuk
dan gosong
dan dimatanya pula tak kutemui tetumbuhan
hanya padang pasir
me!
bila cinta datang dan pergi laksana angin
maka engkau adalah terumbu karang di pagi hari
me!
Kelak
kelak
bila bulir tak lagi terurai
dan kelopak tak usai tergapai
akankah kau masih mencariku
barangkali
justru aku yang lelah menantimu
dan kelak
saat tak ada lagi yang tersisa dari mata ini
saat tak hirau lagi dusta ini
akankah jalan itu hampa
barangkali
desir-desir itu jua telah terlanjur mengering
menyisakan dada yang terbuang
dan sukma tak berbenih
duh masa yang tercerai
akankah kau hujani aku dengan paku
ataukah kan kau genggam aku dalam jari-jemarimu
mungkin kelak
saat entah tak lagi berjarak
aku akan gila
me!
(dedicated to my friend D&R. Please, never give up).
Seorang kawan lama mendadak menemuiku lewat pesan pendeknya.
Ia bertanya singkat, "Jujur, Kenapa kamu mau bertahan hidup hingga detik ini?"
Dan aku terdiam.
But, I wonder…Have we all ever think about it, honestly?
Hm….